Lagu yang merdu tak pernah mati,
Tiap yang hidup jadi penyanyi,
Namun ada yang tetap dicari oleh seseorang,
Untuk lagu untuk dinyanyikan,
Dan yang hidup harus bernyanyi,
Barangkali untuk yang mati,
Tapi para pendengar akan tahu,
Manakah lagu yang baik?
Franky and Jane, demikian pernah menyanyikannya dalam salah satu lagu dari album mereka Musim Bunga di tahun 1978. Masih kuat melekat dalam ingatan bagaimana kentalnya warna music folk dan balada dalam lagu-lagu mereka. Pada masanya hamper semua orang tahu persis dan hapal lirik lagu Bis Kota ataupun Perjalanan. Meskipun liriknya sarat makna namun terasa literer dan membumi. Bukan hanya karangan ataupun angan-angan belaka. Pendengar serasa dibawa menuju suatu pengalaman batin bersama lirik lagu-lagu mereka yang memang kental dengan muatan local.
Meskipun beberapa kali terlibat dengan project yang bermuatan kritik social, sebagaimana kita ketahui bersama lirik lagu Franky tidak pernah bertutur dengan cara yang cenderung vulgar atau apa adanya. Sebut saja album Perahu Retak yang direkam bersama mendiang Gus Dur meskipun bermuatan kritik namun penyampaiannya tetap mempertahankan metafora. Agak berbeda dengan generasi berikutnya semisal Iwan Fals yang selalu menggunakan kosa kata yang lugas apa adanya. Sehingga masyarakat langsung mencintai keterusterangannya. Atau Doel Sumbang yang seringkali liriknya vulgar habis. Franky tetap memiliki pecinta yang benar-benar menikmati music sekaligus liriknya.
Semasa hidupnya Franky telah mencipta banyak lagu yang benar-benar memorable. Terlahir dengan nama Franky Hubert Sahilatua di Surabaya 16 Agustus 1953 kemudian meninggal pada hari ini 20 April 2011 dalam usia 57 tahun, telah berhasil meninggalkan lagu-lagu yang merdu dan mungkin akan tetap hidup sekarang hingga masa mendatang. Sulit mencari bandingannya di masa sekarang. Penyanyi yang tidak merengekkan lirik-lirik cengeng cinta, melainkan memberikan edukasi kepada para pendengarnya akan buruknya moda transportasi di Surabaya masa itu dalam lagu Bis Kota. Itupun dengan tutur yang nyeni. Tidak perlu berteriak garang. Nyatanya semua orang menyimak lirik lagu Bis Kota.
Demikian pula dengan kepedihan dan kerinduannya yang tercermin dalam lagu Perjalanan. Pas sekali Jane Sahilatua menyanyikan lagu ini. Bukan sekedar penyanyinya yang baik, tapi lagunya itu sendiripun sudah teramat baik. Begitupun lirik lagu Musim Bunga, yang menjadi judul album, sangat kuat local content-nya. Tidak merayu, tidak pula berlebihan melukiskan kemeriahan panen bunga dan kecantikan gadis-gadis desanya. Tidak perlu kosa kata rumit, semisal Kla Project. Tidak ada pula ditemui kosa kata gagap, macam Peter Pan ataupun ST12. Semua mengalir masuk ke dalam hati pendengar.
Sebagai seorang seniman yang memiliki pengalaman batin yang tinggi, Franky tidak hanya bercerita tentang kondisi social. Dia juga pernah memiliki visi tentang Benua Baru, yang juga merupakan salah satu lagu dalam album Musim Bunga.
Orang-orang, semua orang ingin pergi ke benua,
Benua baru penuh cita, rasa cinta dan bahagia,
Di sanalah tempat bersemayam,
Semua jiwa yang selalu tunduk…
Dan pada hari ini Franky telah memulai perjalanan berikutnya setelah masa-masa kebahagiannya di dunia ini. Mungkin menuju Tuhannya. Mungkin menuju benua baru yang diimpikannya. Semoga beristirahat dalam damai…… Wednesday, April 20, 2011 @