Britania Raya adalah gudangnya penulis handal. Banyak sudah penulis kelas dunia yang lahir dari kawasan Britania. Bukan hanya karena bahasa Inggris yang sudah mendunia. Namuan sepertinya mereka memang punya talenta untuk menjadi penulis yang baik. Beberapa nama yang menurut saya cukup mewakilia adalah: William Shakespeare, Charles Dickens, Enid Blyton, Michael Scott, dan terakhir adalah penulis wanita fenomenal kelahiran Bristol yang menetap di Skotlandia, dialah J.K. Rowling.
Nama lengkapnya adalah Joanne Kathleen Rowling. Seorang wanita lulusan dari Universitas Exeter di Inggris Barat Daya jurusan bahasa. Ada yang aneh dari pilihan hidupnya ini, Rowling memilih jurusan bahasa meskipun dirinya sangat menyukai sastra. Dan Rowling pun mengakui demikian. Bahwa itu juga aneh menurutnya. Namun ternyata tidak di Inggris tidak juga di Indonesia untuk menjadi penulis tidaklah mudah. Kenyataan sering menghadapkan pada masalah periuk nasi. Rowling berpikir seandainya dia bisa memperoleh pekerjaan secepatnya, lalu dia bisa mulai mengejar ambisinya menjadi penulis yang baik.
Nama lengkapnya adalah Joanne Kathleen Rowling. Seorang wanita lulusan dari Universitas Exeter di Inggris Barat Daya jurusan bahasa. Ada yang aneh dari pilihan hidupnya ini, Rowling memilih jurusan bahasa meskipun dirinya sangat menyukai sastra. Dan Rowling pun mengakui demikian. Bahwa itu juga aneh menurutnya. Namun ternyata tidak di Inggris tidak juga di Indonesia untuk menjadi penulis tidaklah mudah. Kenyataan sering menghadapkan pada masalah periuk nasi. Rowling berpikir seandainya dia bisa memperoleh pekerjaan secepatnya, lalu dia bisa mulai mengejar ambisinya menjadi penulis yang baik.
Bakat memang tidak muncul serta merta. JK Rowling pertama kali mengenal buku dari koleksi pribadi keluarganya. Ibunya adalah seorang kutu buku kelas berat, yang baginya kenikmatan tertinggi adalah ketika meringkuk membaca buku. Semua buku dibaca oleh Rowling muda. Hampir semua buku tidak dilarang oleh ayahnya untuk dibaca, kecuali satu buku yang diambil dari film televisi The New Avengers, lantaran ceritanya yang kejam sering menghantui pikiran Rowling.
Pada umur delapan tahun dia sudah membaca buku Black Beauty karya Anna Sewell yang bercerita tentang kuda, tetapi dalam edisi bergambar. Lalu dia juga membaca Little Women karya Louisa May Alcott. Dan yang paling berkesan baginya adalah buku The Little White Horse karangan Elizabeth Goudge. Dan percaya tidak percaya JK Rowling membaca buku James Bond pertamanya pada usia sembilan tahun yang berjudul Thunderball karya Ian Fleming.
Yang menarik dari latar belakang kesuksesan JK Rowling adalah Harry Potter lahir di tengah kecamuk obsesinya yang luar biasa. Begitu keras ia bekerja membuat riwayat hidup masing-masing karakter yang ada dalam novelnya. Sebut saja tentang permainan Quidditch, itu diciptakan setelah Rowling bertengkar sengit dengan kekasihnya yang tinggal bersamanya di Manchester. Lalu Rowling berlari ke pub, lalu terciptalah permainan Quidditch ini.
Karakter Harry dan tokoh-tokoh lainnya tercipta selama dalam perjalanan kereta dari Machester ke London. Mulai dari Harry, Ron, Nick si Kepala Nyaris Putus, Hagrid dan Peeves si Hantu Jail. Semuanya tercipta di sana. Termasuk Rowling tahu bahwa kisahnya akan terbagi menjadi tujuh bagian, meskipun saat itu belum mulai menulis buku. Rowling mengatakan, "Mungkin kedengarannya sombong banget bagi orang yang satu pun bukunya tak pernah diterbitkan, tapi itulah diriku."
Tokoh yang muncul tidak lepas dari masa lalunya. Dari karakter guru-gurunya semasa kecil, kakek-neneknya, dan orang-orang yang ditemuinya di masa lalu. Bahkan cerita magic inipun tidak mungkin tidak pasti berhubungan dengan tempat tinggalnya yang dekat dengan gereja dan pemakaman. Bagi orang lain, pemakaman adalah hal yang menakutkan, tetapi baginya itu merupakan tempat yang bagus untuk mencari inspirasi nama-nama yang bagus dari nisan-nisan di pemakaman.
JK Rowling menikah dengan seorang wartawan di Portugal, dan ketika anaknya lahir, Jessica, ia baru menyelesaikan 3 bab pertama dari Harry Potter and the Philosopher's Stone. Tapi rupanya tinggal di sana tidak membuatnya bisa menyelesaikan buku pertamanya. Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di Edinburgh, Skotlandia, bersama adiknya.
Di Skotlandia Rowling menulis dari kafe ke kafe, karena terlalu lama menulis di kafe dengan hanya memesan secangkir kopi akan membuatnya diusir oleh si pemilik kafe. Sampai akhirnya ia menemukan kafe Nicholson's milik saudara iparnya. Jadi boleh dibilang, di kafe inilah buku pertamanya selesai dengan jumlah halaman yang luar biasa tebalnya. Dan perlu dicatat, ia menuliskan naskahnya dengan mesin ketik manual!
Naskah luar biasa inipun tidak serta-merta langsung diterima oleh penerbit ataupun agen. Agen pertama yang dikiriminya menolak untuk menerbitkan. Lalu dikirimkannya ke agen kedua dan hasilnya Bloomsbury bersedia menerbitkan bukunya. Rowling mengatakan, "Ini adalah momen kedua terbaik dalam hidup saya, momen terbaik pertama adalah kelahiran Jessica."
Ketika setahun kemudian 1997 buku itu diterbitkan, langsung mendapatkan resensi yang baik dari The Scotsman. Lalu penerbit asal Amerika, Scholastic, membeli hak menerbitkan buku pertamanya dengan harga tinggi, tak urung membuat Rowling ngeri. Dari seorang penulis yang bukan siapa-siapa, dalam waktu singkat menerima penghargaan, royalti, dan kontrak penerbitan yang nilainya besar sekali. Bahkan pada akhirnya Warner Bross pun tertarik memfilmkan buku Harry Potter.
Namun ada yang patut diacungi jempol dari ibu yang satu ini, meskipun menyadari kehidupan sebelumnya tidak terlalu berkecukupan, tapi untuk urusan ide buku dirinya tidak mengenal kompromi. Semua harus sesuai dengan karakter aslinya, tidak juga dalam buku terjemahan bahasa lain, juga dalam filmnya. Karena ia merasa semua karakter itu memiliki riwayat hidupnya sendiri dan itu tidak bisa dinafikan begitu saja mengikuti selera komersial sehingga lantas menjadi komoditi.
"Aku yakin aku akan selalu menulis, setidaknya sampai aku kehilangan akal sehatku. Aku amat sangat beruntung. Berkat popularitas Harry, aku tak perlu menulis demi uang, tak seorangpun memaksaku. Aku hanya perlu melakukannya untuk diriku sendiri. Adakalanya aku berpikir sudah cukup bagiku sekedar menjadi penulis yang lumayan sukses, di mana yang menjadi fokus perhatian adalah bukuku dan bukan diriku. Buku kita diterbitkan saja sudah asyik. Imbalan yang paling besar adalah antusiasme pembaca."
What a wonderful woman, indeed...!@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar